Rabu, 7 Januari 2026
  • Login
No Result
View All Result
identitas
  • Home
  • Ulasan
    • Civitas
    • Kampusiana
    • Kronik
    • Rampai
    • Editorial
  • Figur
    • Jeklang
    • Biografi
    • Wansus
    • Lintas
  • Bundel
  • Ipteks
  • Sastra
    • Cerpen
    • Resensi
    • Puisi
  • Tips
  • Opini
    • Cermin
    • Dari Pembaca
    • Renungan
  • identitas English
  • Infografis
    • Quote
    • Tau Jaki’?
    • Desain Banner
    • Komik
  • Potret
    • Video
    • Advertorial
  • Majalah
  • Home
  • Ulasan
    • Civitas
    • Kampusiana
    • Kronik
    • Rampai
    • Editorial
  • Figur
    • Jeklang
    • Biografi
    • Wansus
    • Lintas
  • Bundel
  • Ipteks
  • Sastra
    • Cerpen
    • Resensi
    • Puisi
  • Tips
  • Opini
    • Cermin
    • Dari Pembaca
    • Renungan
  • identitas English
  • Infografis
    • Quote
    • Tau Jaki’?
    • Desain Banner
    • Komik
  • Potret
    • Video
    • Advertorial
  • Majalah
No Result
View All Result
identitas
No Result
View All Result
Home Jeklang Wansus

Krisis Wadah Kritis

17 Agustus 2023
in Wansus
Krisis Wadah Kritis

Andi Wahyudin Jalil SH MH. sumber foto: dokumentasi pribadi

Editor Friskila Ningrum Yusuf

BacaJuga

Unpaid Internship, Benarkah Memicu Eksploitasi SDM?

Koperasi Merah Putih, Mampukah Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Desa?

Pergolakan mahasiswa tak bisa dibendung ketika rezim orde baru telah mencapai titik jenuhnya. Mereka yang aktif dalam berorganisasi menggelar karpet diskusi, membahas persoalan negeri hingga merumuskan aksi yang mampu meruntuhkan rezim zalim. Tak ayal jika mahasiswa saat itu diidentikkan dengan seorang yang memiliki idealisme yang kuat dan rasa kepekaan yang tinggi.

Namun jika melihat trennya, akhir-akhir ini mahasiswa diperhadapkan dengan kurangnya partisipan dalam wadah kritis yang biasanya digelar oleh organisasi mahasiswa (ormawa) di Kampus Merah, seperti diskusi, kajian hingga demonstrasi. Tak heran bila gelombang kritis yang dulunya mengembang di awal reformasi kini mengempis ketika kebebasan yang dulunya mati-matian diperjuangkan telah lama mahasiswa rasakan.

Mencerna fenomena tersebut, apakah yang menyebabkan menyusutnya gelombang kritis mahasiswa? Mengapa forum diskusi tak lagi begitu diminati? Berikut wawancara khusus Reporter PK identitas Unhas, Achmad Ghiffary M bersama salah satu mantan Aktivis dan Fungsionaris mahasiswa Unhas di era 1990-1998, Andi Wahyudin Jalil SH MH, Rabu (02/08).

Menurut Anda mengapa partisipasi mahasiswa dalam mengikuti wadah kritis seperti forum diskusi kian berkurang?

Sekarang perhatian mahasiswa tersedot oleh gawai sehingga saya pikir diskusi atau forum seperti itu sudah ketinggalan karena kita bisa mencari materi apapun di Google. Memang saat ini perlu dilakukan pendekatan dengan cara-cara yang lebih menghibur tetapi juga intelek. Selalu sisihkan nuansa yang menarik, tidak harus kaku atau formal, tetapi mengemas kegiatan dengan suasana santai tapi isinya boleh keras.

Teknologi kita sudah sangat pesat namun sayangnya cara-cara yang mahasiswa lakukan masih kuno. Kampus pun juga kurang memberikan inovasi pada infrastrukturnya. Seharusnya kampus lebih proaktif, demikian pula dengan dosen yang sebaiknya dapat membangkitkan motivasi serta memelihara idealisme yang kritis.

Dulu pergerakan dan wadah kritis banyak dikarenakan demokrasi saat itu sangat tertutup. Kebebasan bersuara dikungkung, serta kebebasan berserikat dibatasi sehingga timbul ledakan sosial dari mahasiswa yang menginginkan hal itu. Sekarang kan sudah sangat terbuka, jadi yang seharusnya dipikirkan bagaimana mahasiswa mengisi kebebasan itu dengan kegiatan yang berkualitas.

Bagaimana sebaiknya mahasiswa bergerak di era saat ini?

Mahasiswa harus memanfaatkan kebebasan dengan memanfaatkan ruang-ruang akademik yang mampu menyaingi nilai kritis para penguasa yang duduk di parlemen, mereka sudah memiliki hasrat kekuasaan dan kepentingan komersial. Mahasiswa harus tetap menjaga marwahnya yang tidak memihak dan murni terdorong oleh hati nuraninya. Lewat kebebasan dan canggihnya teknologi itu pula, mahasiswa sekarang sudah bisa menulis segala kritikan dan keresahannya di media sosial, lalu mem-viralkannya, itu kan lebih seru.

Apa inovasi yang harus dilakukan oleh organisasi mahasiswa untuk mendobrak agar mahasiswa lebih partisipatif?

Mudah saja, ormawa harus membuat kegiatan yang menarik. Kalau mereka tertarik dengan kegiatan yang berbau demokrasi, silahkan buat. Jangan berpikir soal partisipan yang datang, itu tidak menjadi soal karena yang utama adalah saat mereka mengadakan kegiatan mereka puas. Saya belajar bahwa rentetan kegagalan akibat ingin memuaskan seseorang itu banyak membuat orang akhirnya menjadi apatis.

Menurut Anda siapa yang bertanggung jawab dalam kemunduran sikap kritis mahasiswa?

Semua bertanggung jawab. Pemerintahan yang belum juga sadar menanggapi persoalan ini, padahal ini kondisi yang terjadi di seluruh Indonesia. Pemerintahan mestinya perlu membuat satu kebijakan yang bisa membangkitkan mahasiswa tidak menjadi calon pekerja tetapi seorang intelek, dan nanti kaum intelek inilah yang bisa bekerja di mana-mana. Jadi mahasiswa memiliki keterampilan yang lebih, kuliahnya bisa terpenuhi,  serta kemahasiswaannya pun bisa terisi.

Apa solusi yang kiranya bisa diberikan kepada mahasiswa sehingga sikap kritis dapat terbentuk kembali?

Pertama, mahasiswa harus mengutamakan kuliahnya terlebih dulu. Kedua adalah mahasiswa selalu punya waktu untuk peduli dengan sekitarnya. Misalnya mereka lebih suka menulis, silahkan menulis dengan kritis. Bila mereka lebih suka berdiskusi,  cari teman yang sama-sama suka dan yang satu pemikiran dengan kamu.

Apa harapan Anda terhadap mahasiswa agar lebih kritis dan partisipatif?

Harapan saya, mahasiswa harus berpikir secara murni. Tetap teguh  bahwa mahasiswa itu tidak partisan, tidak memihak siapapun, kecuali pada kebenaran. Ingat bahwa kedua hal itu jangan dilakukan secara tendensius karena emosi tapi kajian, setidaknya kajian dasar mahasiswa.

 

Data diri narasumber

Nama Lengkap: Andi Wahyudin Jalil SH MH

Tempat tanggal lahir: 21 Januari 1970

Riwayat Pendidikan:

S1: Fakultas Hukum, Universitas Hasanuddin

S2: Fakultas Hukum, Universitas Indonesia

Tags: kritisMahasiswaReformasi
ShareTweetSendShareShare
Previous Post

Prof Burhamzah, Guru Besar yang Humanis

Next Post

Kamu Aktif Berorganisasi? Jangan Sampai Kamu Lakukan 6 Kesalahan Ini!

Discussion about this post

TRENDING

Liputan Khusus

Ketika Kata Tak Sampai, Tembok Jadi Suara

Membaca Suara Mahasiswa dari Tembok

Eksibisionisme Hantui Ruang Belajar

Peran Kampus Cegah Eksibisionisme

Jantung Intelektual yang Termakan Usia

Di Balik Cerita Kehadiran Bank Unhas

ADVERTISEMENT
Tweets by @IdentitasUnhas
Ikuti kami di:
  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube
  • Dailymotion
  • Disclaimer
  • Kirimkan Karyamu
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
© 2026 - identitas Unhas
Penerbitan Kampus Universitas Hasanuddin
  • Home
  • Ulasan
    • Civitas
    • Kampusiana
    • Kronik
    • Rampai
    • Editorial
  • Figur
    • Jeklang
    • Biografi
    • Wansus
    • Lintas
  • Bundel
  • Ipteks
  • Sastra
    • Cerpen
    • Resensi
    • Puisi
  • Tips
  • Opini
    • Cermin
    • Dari Pembaca
    • Renungan
  • identitas English
  • Infografis
    • Quote
    • Tau Jaki’?
    • Desain Banner
    • Komik
  • Potret
    • Video
    • Advertorial
  • Majalah

Copyright © 2012 - 2024, identitas Unhas - by Rumah Host.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In