Sabtu, 10 Januari 2026
  • Login
No Result
View All Result
identitas
  • Home
  • Ulasan
    • Civitas
    • Kampusiana
    • Kronik
    • Rampai
    • Editorial
  • Figur
    • Jeklang
    • Biografi
    • Wansus
    • Lintas
  • Bundel
  • Ipteks
  • Sastra
    • Cerpen
    • Resensi
    • Puisi
  • Tips
  • Opini
    • Cermin
    • Dari Pembaca
    • Renungan
  • identitas English
  • Infografis
    • Quote
    • Tau Jaki’?
    • Desain Banner
    • Komik
  • Potret
    • Video
    • Advertorial
  • Majalah
  • Home
  • Ulasan
    • Civitas
    • Kampusiana
    • Kronik
    • Rampai
    • Editorial
  • Figur
    • Jeklang
    • Biografi
    • Wansus
    • Lintas
  • Bundel
  • Ipteks
  • Sastra
    • Cerpen
    • Resensi
    • Puisi
  • Tips
  • Opini
    • Cermin
    • Dari Pembaca
    • Renungan
  • identitas English
  • Infografis
    • Quote
    • Tau Jaki’?
    • Desain Banner
    • Komik
  • Potret
    • Video
    • Advertorial
  • Majalah
No Result
View All Result
identitas
No Result
View All Result
Home Headline

Maraknya Pelaku Pembusuran oleh Anak di Sudut Kota Makassar

22 Oktober 2025
in Headline, Wansus
Dosen Psikologi Perkembangan Universitas Hasanuddin (Unhas), Susi Susanti SPsi MA. Foto: Dokumentasi Pribadi

Dosen Psikologi Perkembangan Universitas Hasanuddin (Unhas), Susi Susanti SPsi MA. Foto: Dokumentasi Pribadi

Editor Nurfikri

Akhir-akhir ini, situasi Kota Makassar kembali dihebohkan dengan maraknya kasus pembusuran. Pelaku dari tindak kriminal ini, tidak hanya datang dari orang dewasa saja, tetapi juga melibatkan anak-anak dan remaja. 

Berdasarkan artikel yang diterbitkan oleh detik.com, empat remaja menjadi tersangka dalam aksi pembusuran saat tawuran di Pampang Makassar pada Juli, dua di antaranya masih berusia 16 tahun.

BacaJuga

Pemilihan Rektor Unhas 2026–2030 Akan Dilaksanakan di Kampus Unhas Jakarta

Unpaid Internship, Benarkah Memicu Eksploitasi SDM?

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar, mengapa anak di bawah umur dapat terlibat dan menjadi pelaku dari tindakan kriminal tersebut? 

Untuk memahami hal tersebut, simak wawancara Reporter identitas, Syahrial bersama Dosen Psikologi Perkembangan Universitas Hasanuddin (Unhas), Susi Susanti SPsi MA, Jumat (10/10).

Bagaimana Anda melihat fenomena ini dari perspektif psikologi perkembangan anak dan remaja?

Anak di bawah umur masih berada di tahap pencarian identitas diri. Dalam tahap ini, mereka belum matang secara karakter, emosi, maupun kognitif. Oleh karena itu, tindakan mereka sering kali tidak dikendalikan oleh prinsip yang kuat dan lebih didorong oleh lingkungan sekitarnya.

Anak-anak pada fase ini, belum mampu berpikir jauh tentang konsekuensi. Mereka lebih mengikuti apa yang dianggap menarik, menantang, atau membuatnya diakui oleh kelompoknya.

Oleh karena itu, ketika kita melihat anak-anak terlibat pembusuran, jangan hanya melihat dari sisi kriminalnya saja, tetapi juga perlu dipahami jika hal tersebut terjadi karena mereka masih dalam proses berkembang dan belum memiliki kontrol diri yang stabil.

Seberapa besar peran pola asuh orang tua terhadap munculnya perilaku berisiko seperti ini?

Peran orang tua itu sangat menentukan. Pengasuhan dan pengawasan menjadi benteng pertama bagi anak dalam memahami batasan moral dan sosial. 

Ketika seorang anak terlibat dalam tindakan berbahaya, kita selalu mempertanyakan, di mana orang tuanya saat itu?

Jika perilaku menyimpang seperti ini sampai berulang, berarti ada yang kurang dari pola pengasuhan di rumah. Orang tua seharusnya tidak hanya menyediakan kebutuhan fisik, tetapi juga menjadi pendidik emosional bagi anak. 

Pengasuhan yang hangat dan penuh perhatian serta komunikasi terbuka mampu membantu anak memahami mereka kalau tindak kekerasan seperti pembusuran itu merupakan perilaku tidak benar.

Sayangnya, dalam banyak kasus, pelonggaran pengawasan membuat anak mencari figur pengganti di luar rumah. Kalau mereka ada di lingkungan yang salah, maka di situlah perilaku negatif mulai terbentuk.

Lingkungan sering disebut sebagai faktor kuat yang membentuk perilaku anak. Seberapa besar pengaruh lingkungan terhadap tindakan kriminal anak-anak ini?

Pengaruhnya sangat besar. Anak-anak dan remaja yang masih dalam proses mencari jati diri, cenderung meniru serta menyesuaikan diri dengan lingkungan yang mereka anggap penting. 

Jika lingkungan pergaulannya positif, maka mereka akan terbentuk secara positif juga. Namun, jika lingkungannya dipenuhi banyak perilaku menyimpang, maka potensi untuk meniru juga akan tinggi.

Misalnya, ketika teman-temannya terbiasa membawa busur atau senjata rakitan, maka bisa jadi anak-anak lain juga ikut melakukannya, demi diterima dalam kelompok. Keinginan untuk diakui dan ketakutan dianggap berbeda menjadi alasan kuat di balik perilaku berisiko tersebut.

Pada akhirnya, pengaruh teman sebaya bisa jauh lebih kuat daripada nasihat orang tua, terutama jika di rumah tidak ada kedekatan emosional. Jadi, membangun lingkungan sosial yang sehat itu penting, baik di sekolah, rumah, maupun masyarakat.

Selain lingkungan nyata, media sosial kini juga banyak dituding sebagai sumber pengaruh negatif. Apakah media sosial berperan dalam kasus seperti ini?

Media sosial memang tidak bisa sepenuhnya langsung disalahkan, namun berperan dalam memperkuat persepsi dan pola pikir tertentu. Anak-anak sekarang tumbuh di era digital, di mana mereka mencari jati diri melalui platform seperti Instagram, TikTok, atau WhatsApp. 

Ketika mereka menjumpai konten yang menampilkan kekerasan atau kenakalan sebagai hal keren, maka hal itu dapat memicu keinginannya untuk mencoba hal tersebut.

Oleh karena itu, orang tua perlu aktif memantau aktivitas daring anak, bukan dengan melarang sepenuhnya, tetapi membimbing mereka menggunakan media sosial secara sehat dan bertanggung jawab.

Dari perspektif psikologi, apakah perilaku seperti pembusuran bisa disebut penyimpangan? Apakah membutuhkan intervensi profesional?

Tentu, ini bisa dikategorikan sebagai penyimpangan perilaku anak dan remaja. Oleh karena itu, intervensi psikologis sangat dibutuhkan. 

Intervensi bukan bertujuan menghukum, tetapi untuk memahami akar masalah dan memberikan strategi penanganan yang tepat. Tanpa adanya hal tersebut, anak bisa terus mengulangi perilaku berisiko, bahkan menularkan ke teman-temannya. 

Dampaknya tidak hanya pada korban, tetapi juga terhadap perkembangan identitas dan empati anak itu sendiri. Jika empati tidak dibangun sejak dini, maka anak bisa tumbuh menjadi individu yang apatis dan tidak peduli pada penderitaan orang lain. 

Oleh karena itu, edukasi empati harus menjadi bagian penting dari proses pengasuhan dan pendidikan.

Bagaimana cara terbaik membentuk kembali karakter anak yang sudah terlanjur terpengaruh lingkungan negatif?

Pembentukan karakter anak perlu dilakukan sesuai dengan usianya. Untuk anak-anak usia sekolah dasar, orang tua perlu menanamkan disiplin dan pemahaman moral dengan tegas namun tetap lembut. 

Sementara bagi remaja, pendekatannya perlu berbeda. Mereka perlu lebih banyak diajak berdialog dan didengarkan, karena umumnya tidak menyukai tekanan atau larangan tanpa penjelasan.

​​Mereka akan lebih terbuka jika diperlakukan sebagai teman diskusi. Misalnya, alih-alih berkata “Jangan ikut membusur!”, lebih baik ajak mereka berpikir, seperti “Menurutmu, apakah tindakan itu bermanfaat? Bagaimana jika kamu yang menjadi korbannya?”.

Dialog seperti ini akan membantu anak belajar menilai tindakannya sendiri, menumbuhkan empati, dan berpikir kritis. Kalau perilaku negatifnya sudah cukup dalam, maka konseling dengan psikolog bisa menjadi solusi efektif, dengan tetap melibatkan peran aktif orang tua.

Informasi Narasumber

Susi Susanti SPsi MA

Dosen Prodi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin

Akademisi Psikologi Neurosains

Riwayat Pendidikan

S1 Psikologi Universitas Ahmad Dahlan

S2 Psikologi Universitas Gadjah Mada

Tags: Anak Pembusurkota makassarPembusuranPsikologi Perkembanganremajawawancara khusus
ShareTweetSendShareShare
Previous Post

Tim Mahasiswa Unhas Sabet Juara 2 Study Case Competition Nasional

Next Post

Widja Malebbi, Asa Baru Sepak Bola Putri Sulawesi Selatan

TRENDING

Liputan Khusus

Pemdes Bonto Karaeng Dukung Program Pengabdian Mahasiswa KKN-T Unhas

Ketika Kata Tak Sampai, Tembok Jadi Suara

Membaca Suara Mahasiswa dari Tembok

Eksibisionisme Hantui Ruang Belajar

Peran Kampus Cegah Eksibisionisme

Jantung Intelektual yang Termakan Usia

ADVERTISEMENT
Tweets by @IdentitasUnhas
Ikuti kami di:
  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube
  • Dailymotion
  • Disclaimer
  • Kirimkan Karyamu
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
© 2026 - identitas Unhas
Penerbitan Kampus Universitas Hasanuddin
  • Home
  • Ulasan
    • Civitas
    • Kampusiana
    • Kronik
    • Rampai
    • Editorial
  • Figur
    • Jeklang
    • Biografi
    • Wansus
    • Lintas
  • Bundel
  • Ipteks
  • Sastra
    • Cerpen
    • Resensi
    • Puisi
  • Tips
  • Opini
    • Cermin
    • Dari Pembaca
    • Renungan
  • identitas English
  • Infografis
    • Quote
    • Tau Jaki’?
    • Desain Banner
    • Komik
  • Potret
    • Video
    • Advertorial
  • Majalah

Copyright © 2012 - 2024, identitas Unhas - by Rumah Host.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In