Industri esport di Indonesia terus berkembang pesat dengan hadirnya turnamen-turnamen yang menawarkan hadiah besar dan pengakuan status profesional bagi para pemainnya. Namun, di balik gemerlap kompetisi dan popularitas yang meningkat, aspek kesehatan para atlet esport sering kali terabaikan.
Fenomena ini menjadi perhatian serius oleh Alumni Fisioterapi Fakultas Keperawatan Universitas Hasanuddin (Unhas) angkatan 2019, Andre Frinanda Sa’Bantoro dan timnya yang mengungkap temuan menarik seputar hubungan antara postur kepala maju atau Forward Head Posture (FHP) dengan spasme otot upper trapezius pada atlet esport. Inspirasi penelitian ini berasal dari kegemaran Andre sendiri terhadap game mobile seperti PUBG dan Mobile Legends.
Penelitian ini menyoroti kebiasaan para atlet esport yang menghabiskan waktu berjam-jam dalam posisi relatif sama, yakni menunduk saat menatap layar smartphone. Aktivitas ini berpotensi menciptakan gangguan postur yang dikenal sebagai FHP, kondisi ketika posisi kepala cenderung maju ke depan dari posisi normalnya. Secara medis, kondisi ini digambarkan sebagai penurunan kurva lordosis pada leher yang dalam jangka panjang dapat memicu berbagai masalah kesehatan.
Dengan menggunakan pendekatan cross-sectional dan metode purposive sampling, penelitian ini memilih 41 atlet esport berusia 17-24 tahun di Kota Makassar. Pengukuran utama dilakukan menggunakan alat bernama goniometer untuk menentukan Craniovertebral Angle (CVA) yang menjadi indikator seberapa parah FHP yang dialami.
Atlet yang diteliti memiliki intensitas latihan yang cukup tinggi, berkisar 5-10 jam per hari dan 5-7 kali per pekan. Pola latihan mereka bervariasi, ada yang berlatih pagi dan sore, ada pula yang berlatih setelah sekolah atau kerja, biasanya mulai pukul 4 sore hingga tengah malam. Intensitas latihan juga cenderung meningkat menjelang kejuaraan.
Dalam penelitiannya, FHP dikategorikan menjadi tiga tingkatan: normal (>50 derajat), ringan (≤50 derajat), dan berat (≤30 derajat). Hasil penelitian menunjukkan seluruh partisipan mengalami FHP dalam kategori ringan dengan rata-rata sudut 41,59 derajat. Sementara untuk spasme otot upper trapezius, 41,5% atlet mengalami spasme sedang dan 19,5% mengalami spasme berat.
Meskipun demikian, penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara FHP dengan spasme otot upper trapezius. Andre menyebutkan beberapa kemungkinan alasan di balik temuan ini, salah satunya karena derajat FHP atlet hanya pada kategori ringan.
Meski disebut “atlet”, Andre menjelaskan bahwa sebagian besar partisipan masih tergolong semi-profesional karena industri esports di Makassar belum sepenuhnya berkembang pada 2023.
“Bermain game ini kayak cuma hobi, terus sampingan mungkin ada kerjaannya yang lain. Jadi, mereka nggak fokus untuk main game saja,” jelasnya, Jumat (11/04).
Meskipun begitu, penelitian ini menemukan bahwa 41,5% responden (17 orang) mengalami spasma sedang pada otot upper trapezius, dan delapan orang mengalami spasme berat. Ini menunjukkan bahwa masalah otot tetap ada meski tidak berkorelasi langsung dengan FHP.
Peneliti ini juga menjelaskan konsep upper cross syndrome, yaitu kondisi gangguan muskuloskeletal akibat ketidakseimbangan otot di sekitar leher, bahu, dan dada. FHP merupakan salah satu manifestasi dari sindrom ini yang terjadi ketika otot-otot bagian belakang leher bekerja lebih keras saat kepala menunduk, sementara otot-otot bagian depan menjadi lemah.
Selain itu, penelitian ini menunjukkan perbedaan antara penggunaan smartphone versus PC dalam konteks FHP. Smartphone dengan layar lebih kecil yang biasanya diletakkan di bawah dekat pangkuan mengharuskan pengguna menundukkan kepala, sementara PC dengan layar lebih besar dapat diposisikan sejajar dengan mata sehingga mengurangi risiko postur menunduk.
“Yang bagus itu ketika kita bermain game posisinya tidak konsisten yang terus diam saat bermain. Harus tetap bergerak dalam jangka waktu paling lama itu setengah jam harus bergerak lagi,” tegasnya.
Selain itu, Andre juga merekomendasikan peregangan otot leher secara berkala, penguatan otot-otot leher, dan aktivitas fisik rutin untuk mencegah gaya hidup menetap atau sedentary lifestyle.
Penelitian ini menyoroti pentingnya kesadaran akan postur tubuh di kalangan atlet esport. Meskipun tidak ada hubungan langsung antara FHP dan spasme otot, risiko kesehatan tetap ada dan perlu ditangani dengan serius.
Dengan berkembangnya industri esport di Indonesia, penelitian semacam ini menjadi semakin penting untuk melindungi kesehatan para atlet yang sering diabaikan di balik kilau prestasi dan popularitasnya. Hasil penelitian ini bisa menjadi peringatan dini bagi para atlet esport dan penggemar game pada umumnya untuk lebih memperhatikan kesehatan tubuh mereka saat bermain game dalam waktu lama.
Azzahra Dzahabiyyah Asyila Rahma
