“Orang tua saya selalu bilang, ini bukan limitmu. Kamu bisa lebih dari ini.”
Acthasain Putra Suhardi, mahasiswa Fakultas Kedokteran yang mewakili Universitas Hasanuddin (Unhas) pada ajang Clash of Champions (COC) Season 2 oleh Ruang Guru. Ia adalah satu-satunya perwakilan kampus Indonesia Timur yang berhasil melaju ke Top 16 dari 80 peserta universitas ternama dalam dan luar negeri.
Nama Sain mulai dikenal ketika dirinya berhasil mencatat skor sempurna 1000 pada tes Penalaran Matematika (PM) UTBK 2024. Angka itu nyaris mustahil dicapai banyak peserta, tetapi berhasil ia taklukkan. Dari situ, jejak langkahnya semakin diperhitungkan, seakan setiap hitungan rumus membawanya pada panggung-panggung baru.
Semasa kecil, Sain mengaku tidak punya motivasi yang jelas dalam dunia akademik. Cita-citanya belum terarah dengan pasti, layaknya anak-anak yang sedang menerka-nerka tentang masa depan. Namun justru dalam ketidakpastian itu, matematika hadir sebagai konstan yang tidak pernah berubah.
Sejak kelas enam SD, ia sudah merasa nyaman dengan angka. Kemenangan pertama pada sebuah lomba matematika memberinya titik balik semangat untuk mendalami bidang tersebut.
“Setelah dapat juara pertama, baru orang-orang sadar saya lebih cocoknya di matematika,” kenangnya, Selasa (26/08).
Baginya, matematika adalah ruang sederhana di tengah kerumitan. Saat pelajaran lain menuntut hafalan panjang, ia cukup menguasai beberapa rumus untuk menyelesaikan ratusan soal. Logika itu membuatnya jatuh hati.
Masa SMA semakin mempertegas jalannya. Sepulang sekolah ketika teman-temannya beristirahat, Sain justru menyempatkan diri menuju guru pembimbing. Konsultasi memang ia lakukan, tapi lebih sering belajar mandiri. Baginya, belajar bukan sekadar membaca teori, melainkan menguji diri dengan soal demi soal.
Polanya sederhana namun konsisten. Ia mengerjakan soal, cek kesalahan, lalu mencari jawaban lain. Proses itu seperti algoritma rekursif yang berulang tanpa henti. Ketika salah, ia tidak berhenti, melainkan mencoba lagi hingga menemukan pola yang benar.
Kebiasaan itu terbukti saat menghadapi UTBK. Mendapat beasiswa belajar di Ruang Guru, Sain memanfaatkan penuh fasilitas try out premium. Hampir setiap malam selama sebulan, ia mengerjakan simulasi soal.
“Minimal satu try out setiap malam. Kalau salah, saya pelajari lagi. Begitu terus sampai terbiasa,” ujarnya.
Namun, UTBK hanyalah satu variabel dalam deret panjang prestasinya. Sebelumnya, pria asal Bone itu pernah meraih medali emas di World Mathematics Invitational (WMI) 2022, ajang internasional yang mempertemukannya dengan peserta dari berbagai negara. Selain itu, ia juga menutup masa SMA dengan kemenangan di Prisma Mathematics Competition.
Keseriusannya membawa Sain ke panggung lebih besar, yakni Clash of Champions Season 2. Di awal kompetisi, ia sempat merasa ciut sebab lawannya adalah mahasiswa dari University of Oxford, Stanford University, hingga kampus internasional yang reputasinya mendunia. Sementara Unhas, bahkan belum dikenal sebagian dari mereka.
“Awalnya terintimidasi. Mereka dari kampus besar, sementara mereka tidak tahu apa itu Unhas,” ucapnya.
Perasaan itu membuat performanya menurun di awal kompetisi. Namun seiring waktu, tekanan itu berubah menjadi gaya dorong. Ia mulai menemukan ritme, membaca tempo lawan, dan berani menantang diri sendiri. Sebab baginya, setiap kompetisi adalah tempat berkembang dan ruang evaluasi. Ia tidak sekadar mencari juara, melainkan mengukur batas diri, lalu dikembangkan lagi.
Perjalanan Sain tidak selalu mulus. Di kelas sepuluh, ia gagal lolos Olimpiade Siswa Nasional (OSN) tingkat provinsi, sebuah titik terendah dalam perjalanannya. Kegagalan itu membuatnya bertanya-tanya, mengapa dirinya tidak mampu?
Namun, kegagalan itu justru membawanya ke jalan lain. Ia menemukan ajang internasional yang lebih sesuai dengan potensinya. Di saat tekanan datang, ia memilih menyeimbangkan diri lewat seni. Melukis dan menulis menjadi cara untuk melepaskan penat ketika otak kirinya jenuh dengan angka.
Di balik semua capaiannya, keluarga khususnya orang tua adalah faktor utama. Om-tantenya yang berprofesi sebagai dosen juga selalu menjadi role model. Mereka memberi dukungan penuh, sekaligus mengingatkan agar tidak cepat puas.
Pesan itu menjadi teorema hidup bagi alumni SMAN 1 Bone itu. Setiap pencapaian hanyalah titik, bukan akhir. Masih ada cabang ilmu lain yang bisa dikuasai, dan masih ada potensi yang bisa digali. Kini, meski fokus kuliah di FK Unhas, semangat berkompetisi tetap ia pelihara.
Bagi Sain, asal-usul bukanlah hambatan. Ia datang dari kota kecil di Sulawesi Selatan, yaitu Kabupaten Bone. Bukan sekolah besar ketika membahas OSN, bukan pula kota yang selalu jadi pusat perhatian. Namun, jalan yang ia tempuh justru penuh kejutan, skor sempurna UTBK, panggung COC, hingga beradu strategi dengan mahasiswa dunia.
Ia ingin anak muda lain tahu bahwa setiap orang punya jalannya sendiri. Tidak ada yang terlalu kecil untuk bermimpi, dan tidak ada yang terlalu besar untuk dicapai. Ia yakin hidup tak selalu harus dimulai dari motivasi besar. Cukup dengan rumus sederhana, ketekunan mengulang pola, serta keberanian menghadapi tekanan.
Andika Wijaya
