Seberapa jauh kamu akan pergi demi mewujudkan impian yang bukan milikmu? Pertanyaan ini menjadi inti cerita Miss Juneteenth, film tentang dunia Turquoise Jones (Nicole Beharie), seorang mantan ratu kecantikan yang berjuang mati-matian untuk memberikan putrinya kesempatan yang tidak pernah ia dapatkan.
Nama Juneteenth itu sendiri, lahir dari gabungan kata “Juni” dan “sembilan belas,” menandai peringatan pada 19 Juni 1865 yang menjadi jantung dari kisah ini.
Hari tersebut diperingati untuk mengenang momen Mayor Jenderal Gordon Granger saat tiba di Galveston, Texas. Kedatangannya itu membawa berita kebebasan bagi sekitar 250 ribu orang yang masih diperbudak di sana.
Proklamasi ini membebaskan lebih dari tiga juta orang kulit hitam di wilayah Konfederasi, namun baru benar-benar efektif setelah Perang Saudara berakhir.
Selama bertahun-tahun, Juneteenth diperingati terbatas di kalangan komunitas kulit hitam, hingga akhirnya diakui secara luas pada 1980. Texas menjadi negara bagian pertama yang menetapkannya sebagai hari libur resmi.
Pada 2021, setelah gerakan Black Lives Matter, Juneteenth akhirnya ditetapkan sebagai hari libur federal ke-11 di Amerika Serikat oleh Presiden Joe Biden.
Ajang kecantikan Miss Juneteenth pun menjadi bagian dari perayaannya. Kontes kecantikan ini bertujuan untuk merayakan dan memberdayakan perempuan muda Afrika-Amerika.
Kemenangan Turquoise Jones pada ajang Miss Juneteenth seharusnya menjadi tiket emas menuju masa depan cerah, namun hidup justru membawanya ke jalan yang berbeda.
Sekarang, ia merupakan seorang ibu rumah tangga yang harus bekerja keras di dua pekerjaan, yaitu sebagai manajer rumah duka dan pelayan barbeque untuk menopang hidupnya.
Turquoise memiliki satu tujuan, yaitu memastikan putrinya, Kai (Alexis Chikaeze), memenangkan kontes kecantikan tersebut karena selain mendapatkan mahkota, pemenang kontes ini juga akan mendapatkan beasiswa penuh dan menjadi kesempatan baginya untuk melarikan diri dari kehidupan sulit yang ia jalani.
Namun, Kai hanyalah seorang remaja yang juga mempunyai impiannya sendiri. Berbakat dalam menari, ia justru lebih tertarik mengikuti tim tari di sekolahnya dibanding pelajaran etiket atau tata krama yang diajarkan dalam persiapan kontes.
Turquoise berjuang mati-matian untuk memberikan yang terbaik bagi Kai, hingga sering kali mengabaikan keinginannya sendiri. Ia juga menghadapi berbagai tantangan finansial dan emosional, termasuk hubungan yang rumit dengan mantan suaminya, Ronnie (Kendrick Sampson).
Dalam film ini, kita bisa melihat bagaimana konflik antara ambisi orang tua dan hasrat anak menunjukkan, cinta seorang ibu bisa menjadi sumber kekuatan sekaligus tekanan bagi anaknya.
Salah satu kekuatan utama Miss Juneteenth ada pada pendekatannya yang halus dan tidak tergesa-gesa. Sutradara dan penulis skenario Channing Godfrey Peoples, berhasil membangun dunia yang terasa begitu nyata.
Dalam film ini, tidak ada melodrama yang berlebihan. Emosi justru terungkap melalui dialog-dialog jujur dan tatapan mata yang penuh makna.
Berkat hal tersebut, sutradara Miss Juneteenth berhasil memenangkan National Board of Review Award untuk debut penyutradaraan terbaik. Film ini juga dinominasikan untuk empat Independent Spirit Awards dan Sundance Grand Jury Prize, serta berhasil memenangkan Penghargaan Louis Black “Lone Star” di Festival Film SXSW 2020.
Dari segi aspek visual, film Miss Juneteenth juga patut di acungi jempol. Daniel Patterson sebagai sinematografer berhasil menangkap esensi kehidupan di Fort Worth, Texas. Ia menggunakan pencahayaan alami yang lembut nan hangat serta memberikan palet warna yang memancarkan nostalgia dan keaslian.
Nicole Beharie juga memberikan penampilan terbaiknya dalam film ini. Ia tidak hanya memerankan Turquoise, tetapi juga benar-benar merasukinya. Chemistry nya dengan Alexis Chikaeze sangat alami, membuat hubungan ibu dan anak ini terasa begitu otentik.
Bagi penonton yang mengharapkan alur cerita yang cepat atau konflik yang meledak-ledak, tempo film ini mungkin terasa terlalu lambat. Cerita dibangun secara perlahan, dan tidak semua penonton akan sabar dengan pendekatan tersebut.
Miss Juneteenth benar-benar mengajarkan kita tentang arti dari kebebasan. Turquoise yang awalnya meyakini kebebasan itu datang dari kemenangan di kontes, akhirnya menyadari kalau kebebasan paling berharga saat kita mampu untuk memilih jalan hidup sendiri.
Film ini menjadi pengingat bagi kita, jika warisan terbaik yang bisa diberikan oleh orang tua kepada anaknya bukanlah impian yang diwariskan, melainkan keberanian untuk menjadi diri sendiri.
Rika Sartika
