Prof Dr dr Habibah Setyawati Muhiddin SpM (K) dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Hasanuddin (Unhas) pada Selasa (18/02). Prosesi tersebut mengukuhkan dirinya sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Vitreoretina.
Dalam orasinya yang berlangsung di Ruang Senat Lantai 2 Rektorat ini, Habibah menyampaikan upaya pencegahan kebutaan akibat diabetes. Ia mengungkap bahwa retinopati diabetik (kerusakan pembuluh darah mata akibat diabetes) menjadi penyebab utama kebutaan pada usia produktif di negara maju. Di Indonesia, prevalensi (jumlah kejadian penyakit) diabetes tercatat sebesar 9,19 persen, sementara di Sulawesi Selatan sebesar 7,6 persen.
“Penelitian kami di Rumah Sakit Wahidin menunjukkan 68,42 persen pasien dengan ancaman penglihatan tidak pernah melakukan pemeriksaan mata sebelumnya. Artinya screening tidak berjalan,” tambahnya.
Habibah menerangkan bahwa menurut American Academy of Ophthalmology, sepertiga dari penderita diabetes akan mengalami retinopati diabetik dan sepertiga di antaranya terancam kebutaan. Bahkan penelitian di Yogyakarta menunjukkan 46,1 persen penderita diabetes mengalami retinopati diabetik.
Guru Besar ke-561 itu mengungkapkan kondisi pelayanan kesehatan mata di Sulawesi Selatan masih memprihatinkan. Dari 24 kabupaten/kota, hanya lima kabupaten yang memiliki laser fotokoagulasi untuk terapi retinopati diabetik, yaitu Makassar, Bantaeng, Palopo, Sengkang, dan Bulukumba.
“Jadi 200 ribu orang (adalah penderita) Diabetes Melitus (DM) di Sulawesi Selatan, di mana kira-kira ada 100 ribu (pasien) yang harus dilaser, sedangkan kami laser baru hanya 5.000 (pasien),” tegasnya.
Sejak 2013, pihaknya telah bekerja sama dengan berbagai organisasi untuk meningkatkan deteksi dini di tingkat puskesmas melalui pelatihan dan penyediaan alat. FK Unhas juga mendapat bantuan berupa mobil yang dilengkapi kamera dan mesin laser untuk melakukan screening dan terapi keliling ke kabupaten dan puskesmas.
Untuk mengatasi masalah ini, Habibah menyarankan agar pemerintah menjadikan pencegahan kebutaan sebagai indikator kesehatan prioritas, menyediakan sarana dan prasarana memadai di setiap kabupaten, serta meningkatkan kolaborasi lintas sektor dalam penanganan retinopati diabetik.
Azzahra Dzahabiyyah Asyila Rahma