Tubuhku sontak terkejut saat sedang menyetel alarm. Alarm yang biasanya membangunkanku dari tidur, yang akhir-akhir ini bahkan belum sempat kunikmati. Bagaimana tidak, alarm itu menunjukkan sisa waktu tidurku hanya satu jam sebelum memulai aktivitas seharian sebagai mahasiswa.
Impuls saraf yang bergerak cepat menjalar ke seluruh tubuh, membuatku terjaga dan akhirnya merenung di subuh hari. Wajar saja, di usia sekarang, kita sebagai mahasiswa pasti sedang dihadapkan suatu problematika yang disebut krisis identitas.
Mencoba tidur sambil membuka Instagram ternyata bukan ide yang baik. Kini, kita hanya melihat keseruan teman-teman yang sudah magang di tempat idaman, atau mereka yang lolos bahkan menjuarai perlombaan di kancah nasional. Semuanya terlihat penuh pencapaian.
Beralih ke TikTok, tak jarang kita dihadapkan pada kenyataan bahwa orang-orang seusia kita sudah sukses. Ada yang sudah menjadi pengusaha tersohor, dengan uang jajan sehari lebih banyak dari uang bulanan kita sebagai anak rantau. Yang lebih mengejutkan, Alexander the Great di umurnya sebaya denganku sudah menjadi panglima perang tersukses sepanjang sejarah umat manusia.
Buka YouTube? Sedikit lebih baik. Kita disuguhi konten motivasi yang membakar semangat sesaat. Tapi, setelah itu? Besok bangun tidur, pasti lupa lagi.
Hal itu mengingatkanku pada masa ketika masih menjadi mahasiswa baru. Rambut botak, pakaian putih agak menguning yang dipakai hampir setiap hari, tapi semangatnya luar biasa. Rasanya dunia begitu mudah ditaklukkan. Daftar lomba sana-sini, latihan, belajar tanpa henti. Semangat itu seakan tak pernah padam. Tapi, mengapa seiring bertambahnya usia, nyalanya ikut meredup? Entah karena tenaga yang habis, atau keadaan yang memaksa kita demikian.
Salah satu hal yang sering kujadikan kambing hitam adalah anggapan bahwa diriku terlalu “generalis” di dunia yang tampaknya memaksa kita menjadi “spesialis”. Dengan latar belakang di bidang teknologi, hal ini justru memperpanjang overthinking. Bagaimana tidak, kecerdasan buatan kini sudah tidak main-main dan sangat mengancam prospek kerja mahasiswa jurusan IT.
Menjadi generalis memang punya keunggulan. Saya bisa beradaptasi dengan cepat di berbagai lingkungan kerja, organisasi, dan kegiatan volunter. Semua itu membentuk “kegeneralisanku” melalui kesibukan yang menumpuk.
Namun di sisi lain, perasaan kurang selalu menghantui. Di tengah kesibukan yang menyesakkan, kadang terlintas pertanyaan: apa sebenarnya yang sedang kita kejar? Sering kali hal-hal yang kita lakukan tidak sejalan dengan latar belakang kita. Rasanya, kesibukan ini hanya menjadi pelarian dari rasa bersalah karena malas memperdalam ilmu yang sesuai dengan jurusan perkuliahan.
Akibatnya, saat ingin mendaftar magang, kemampuan terasa nanggung, sementara perusahaan mencari orang dengan keahlian khusus. Mendaftar di posisi yang tidak linear pun berisiko, karena konversinya sulit dan peluang kerjanya juga kecil. Para generalis di luar sana pasti paham rasanya. Menjadi generalis memang menguntungkan dalam dunia perkuliahan jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang, sulit membayangkan bisa hidup layak di masa depan.
Namun suka atau tidak, generalis maupun spesialis, kita tetap harus menjalani hidup. Kata orang, hidup itu keras. Memang benar dan baru terasa betul akhir-akhir ini.
Mungkin kita digeneralisir oleh keadaan. Bisa jadi kita tidak pernah belajar untuk menjadi ahli di satu bidang, atau dunia memang bergerak terlalu cepat hingga kita hanya punya waktu untuk sekadar bertahan hidup. Kita kehilangan arah, kehilangan tujuan, bahkan kehilangan motivasi.
Mungkin juga, kita terlalu sering mengeluh dan bersikap abai perihal masa depan yang sebenarnya kita butuh. Dulu mimpi kita bergemuruh, tapi kini rasanya semakin jauh. Mungkin kita memang tidak bisa bermimpi menjadi Aladdin, jika karpet saja belum mampu kita terbangkan.
Dunia memang bergerak sangat cepat. Kadang lebih cepat dari durasi tidur. Lalu pada akhirnya, ketika berbaring di tempat tidur, alih-alih terlelap, kita malah sering mempertanyakan apakah benar-benar bisa mencapai apa yang diinginkan. Jika dipikir-pikir, bagaimana kita bisa bermimpi di dunia yang serba cepat ini, jika bahkan tidur pun kini terasa terlalu singkat untuk sempat bermimpi.
Sudah pukul setengah tujuh pagi, saatnya berangkat kuliah. Terima kasih sudah membaca sampai akhir.
Adrian
Mahasiswa Fakultas Teknik Angkatan 2023
Sekaligus Reporter PK identitas Unhas 2025
