Hidup di sebuah pulau kecil dengan masyarakat yang terlena dengan tradisi yang sudah mengakar selama beberapa generasi, bukanlah sesuatu yang mudah. Tradisi yang secara tidak langsung berbunyi “Semulia-mulianya peran perempuan adalah segera mencari pasangan hidup dan memproduksi anak.” Inilah yang dialami seorang gadis berusia 20 tahun bernama Ona, dalam film Between The Devil And The Deep Blue Sea.
Film dokumenter Between The Devil And The Deep Blue Sea, garapan Kampung Halaman Foundation ini disutradarai oleh Dwi Sujanti Nugraheni. Film ini ditayangkan pada sebuah acara Film Musik Makan pada Maret 2020. Secara garis besar, film documenter ini bercerita tentang pahit manis kehidupan Ona, yang berada di antara pilihan-pilihan sulit. Itulah alasan mengapa film ini berjudul Between The Devil and The Deep Blue Sea.
Film yang berdurasi 73 menit tersebut menceritakan tentang keseharian Ona, seorang gadis ceria dan optimis dari Kaledupa, Kepulauan Wakatobi yang bercita-cita menjadi ahli biologi kelautan. Ia merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Orang tuanya hanya bekerja sebagai nelayan tradisional, petani, dan pekerja serabutan dengan pendapatan yang sangat tidak menentu. Di mata keluarganya, Ona merupakan gadis yang selalu berusaha untuk bersikap mandiri.
Cerita terus bergulir kala Ona melanjutkan pendidikannya di sebuah universitas di Kendari yang jaraknya ratusan kilometer dari desa. Uang kuliah yang harus dibayar setiap semester menjadi hal sulit bagi keluarga Ona.
Pada Scene awal film, kita akan langsung diperdengarkan Ona bercerita tentang kisah masa lalunya yang hingga sekarang mungkin tidak mudah untuk dilupakan. Saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, Ona menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang dikenal sering berbuat onar. Kekasihnya bernama La Nua, memperkosa Ona saat kencan pertama mereka. Merasa tersakiti atas perlakuan itu, Ona berusaha untuk memperbaiki harga dirinya dengan terpaksa bertunangan bersama La Nua. Ia berfikir masih ada banyak waktu untuk menyelesaikan studinya sebelum menikah. Namun, percuma saja. Menikah dengan La Nua malah hanya akan menjadi cemoohan banyak masyarakat. La Nua adalah orang yang kurang baik di mata masyarakat. Ia bahkan pernah dipenjara akibat kasus penikaman.
Kisah berlanjut, kala kehidupan Ona di tempatnya menimbah ilmu juga tidak pernah lepas dari masalah. Kiriman uang dari orang tua yang tidak menentu, membuatnya harus mencari pendapatan sendiri untuk memenuhi kebutuhan. Salah satunya bekerja di sebuah kafe kecil di dekat indekosnya. Belum lagi masalah akademik. Salah seorang dosennya memberinya nilai eror dengan alasan yang tidak adil untuk Ona. Dosennya hanya akan memberinya nilai apabila Ona membayarnya 150 ribu rupiah.
Dalam film ini, tergambar secara nyata masalah yang sering dihadapi perempuan yang tinggal di daerah transisi. Ona harus memainkan tiga peran, yakni sebagai anak perempuan, seorang mahasiswa, dan seorang perempuan yang bersolidaritas. Ona seakan sudah mewakili suara ratusan perempuan yang bernasib sama sepertinya. Film ini juga menjadi mediasi bagi Ona untuk bersuara. Banyak perempuan lain yang senasib dengannya, hanya saja enggan bersuara karena menceritakan kisah seperti ini pada orang lain tidak akan lebih dari membuka aib sendiri.
Impian dan cita-cita Ona untuk menjadi ahli biologi kelautan tidak akan terhenti hanya karena masalah yang dihadapi. Ia sebagai harapan bagi kedua orang tua dan juga contoh bagi kedua adik perempuannya, harus berjuang untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Meskipun memiliki masa lalu yang kelam, Ona terus berusaha menjadi perempuan mandiri. Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari keseharian dan peran berat Ona. Yang paling utama adalah jangan takut bermimpi setinggi-tingginya untuk sebuah harapan yang lebih baik.
Risman Amala Fitra