Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) adakan teatrikal jalanan bertajuk “Dijanji, Dilupa, Dilindas” di Pintu 1 Unhas, Jumat (05/09). Hal ini menjadi pernyataan sikap atas kondisi bangsa yang dipenuhi janji politik yang diingkari, represif aparat, serta lambannya respons pemerintah.
Ketua UKM Teater Kampus Unhas, Siti Nurdiana, menjelaskan bahwa ide pementasan “Dijanji, Dilupa, Dilindas” berawal dari diskusi internal yang merangkum situasi Indonesia saat ini. “Awalnya kami mencoba menggali kondisi Indonesia saat ini. Dari janji-janji politik yang diingkari DPR, represif aparat, hingga respons pemerintah yang lambat. Dari situlah muncul kata dijanji, dilupa, dilindas,” ungkapnya saat diwawancarai.
Ia yang turut menjadi aktor, menambahkan bahwa simbol-simbol yang digunakan dalam pementasan memiliki makna tersendiri. Nurdiana memerankan sosok pemerintah, DPR, sekaligus aparat dengan menggunakan properti sepatu sebagai lambang kendali penguasa terhadap aparat.
“Aparat itu ibarat bidak catur. Mereka digerakkan sesuai instruksi pemerintah,” tambah mahasiswi Ilmu Pemerintahan itu.
Sementara itu, Koordinator Lapangan Teatrikal ini, Andi Khaeria menekankan bahwa kritik mereka tidak hanya ditujukan kepada DPR, tetapi juga Presiden yang kerap mengumbar janji tanpa realisasi.
“Janji-janji politik itu terlalu sering diucapkan, tapi realitasnya minim dan jauh dari harapan. Respons yang muncul pun tidak sesuai dengan apa yang rakyat butuhkan,” tegasnya dengan menampilkan diri sebagai Ibu berkerudung pink, mewakili masyarakat yang bersuara.
Tiga tuntutan utama yang disuarakan oleh UKM Teater Kampus Unhas ini merupakan refleksi atas suara mahasiswa dan rakyat yang tidak boleh lagi dibungkam. Nurdiana menegaskan harapannya agar suara perlawanan dari aksi ini tetap menggema.
“Semoga suara hari ini tetap terdengar besar walaupun hanya sebuah langkah kecil. UKM Teater Kampus Unhas bukan hanya tampil di panggung, tapi juga hadir sebagai teater proses dan protes,” tuturnya.
Klee
