Women from Rote Island merupakan film drama thriller asal Indonesia yang disutradarai oleh Jeremias Nyangoen dengan mengangkat isu sosial mengenai kekerasan seksual dan perjuangan perempuan di Indonesia Timur, tepatnya di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur.
Film ini mengisahkan perjalanan hidup Orpa (Merlinda Dessy Adoe), seorang ibu yang harus menghadapi kenyataan pahit setelah kehilangan suaminya, Abram.
Ia tinggal bersama anak perempuan keduanya, Bertha (Sallum Ratu Ke), sementara anak sulungnya, Martha (Irma Novita Rihi) merantau ke Malaysia, bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Setelah kematian suaminya, Orpa memutuskan untuk menunda pemakamannya selama delapan hari. Saat itu, ia berharap agar Martha bisa pulang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada ayahnya. Namun kepulangan Martha justru membawa luka yang lebih dalam.
Ia mengalami kekerasan seksual dari majikannya di Malaysia. Bukannya mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitar, Martha justru menghadapi stigma dan perlakuan tidak adil di kampung halamannya.
Hal ini menunjukkan bagaimana perempuan korban kekerasan seksual masih sering disalahkan dan dikucilkan dalam sistem sosial yang masih sangat patriarki.
Salah satu aspek menarik dari film ini ada pada keautentikan yang dihadirkan melalui pemilihan aktor lokal dari Pulau Rote dan sekitar Nusa Tenggara Timur. Hal ini bertujuan untuk menjaga keaslian aksen bahasa serta menangkap esensi budaya setempat yang lebih akurat.
Dengan pendekatan tersebut, film ini mampu memberikan pengalaman yang lebih mendalam bagi penonton dan menghadirkan realitas sosial yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat Rote.
Women from Rote Island juga menjadi bentuk penghormatan bagi para perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual serta para ibu yang berjuang mencari keadilan bagi anak-anak mereka.
Film ini benar-benar menggambarkan bagaimana korban kekerasan seksual yang sering kali harus menghadapi stigma dan diskriminasi, bahkan di lingkungan mereka sendiri. Alih-alih mendapatkan perlindungan dan dukungan, mereka justru kerap disalahkan atau dianggap membawa aib bagi keluarga.
Hal tersebut menjadi salah satu kritik sosial yang kuat serta menyoroti betapa sulitnya perempuan mencari keadilan dalam masyarakat yang masih sangat patriarki.
Sebelum resmi tayang di bioskop Indonesia, Women from Rote Island terlebih dahulu mendapatkan pengakuan di berbagai festival film internasional. Film ini sempat ditayangkan di Busan International Film Festival 2023 pada 7 Oktober.
Tak lama setelah itu, film ini juga ditayangkan dalam Jakarta Film Week 2023, Asian Film Festival Barcelona 2023, serta QCinema International Film Festival 2023.
Daya tarik utama film berdurasi 1 jam 46 menit ini ada pada kemampuannya dalam menyajikan cerita yang emosional dan realistis. Penggunaan bahasa dan budaya setempat memperkuat kedalaman narasi, membuat penonton lebih mudah terhubung dengan para karakter dan memahami konflik yang mereka alami.
Sinematografi dalam Women from Rote Island juga patut diapresiasi. Pengambilan gambar yang menampilkan keindahan alam Pulau Rote memberikan kontras yang tajam dengan kerasnya realitas yang harus dihadapi oleh para karakter.
Perpaduan tersebut menciptakan pengalaman visual yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga memperdalam kesan emosional dari setiap adegan.
Namun, beberapa penonton mungkin akan merasa alur cerita berjalan cukup lambat di beberapa bagian. Selain itu, tema yang berat dan emosional mungkin tidak cocok untuk semua kalangan.
Meskipun demikian, film ini berhasil menyampaikan pesannya dengan kuat serta membuat penonton merenungkan realitas yang dihadapi oleh banyak perempuan di Indonesia, khususnya di daerah terpencil.
Women from Rote Island bukan hanya sebuah film, tetapi juga sebuah pernyataan sosial yang kuat. Dengan alur cerita yang mendalam, akting yang autentik serta pesan sosial yang menggugah, film ini mampu meninggalkan kesan mendalam bagi penontonnya.
Lebih dari sekadar hiburan, film ini menjadi media edukasi dan refleksi serta mendorong diskusi lebih luas mengenai kekerasan seksual, hak-hak perempuan, dan ketidakadilan yang masih terjadi dalam masyarakat.
Bagi penonton yang ingin memahami lebih dalam tentang realitas yang dihadapi perempuan korban kekerasan seksual di Indonesia, Women from Rote Island adalah pilihan yang sangat direkomendasikan.
Film ini tidak hanya memperlihatkan kekuatan perempuan dalam menghadapi trauma dan ketidakadilan, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya solidaritas dan dukungan bagi mereka yang berjuang mencari keadilan.
Jika Sobat iden tertarik mengungkap potret ketidakadilan perempuan Indonesia Timur tersebut, kamu dapat menyaksikan Women from Rote Island di layanan streaming Netflix.
Athaya Najibah Alatas
