Follow

Oci, Sahabat Mahasiswa

Editor: Ayu Lestari | Jumat, 16 Februari 2018 - 05:00 Wita | 143 Views

“Mahasiswa akan datang dan pergi, mereka akan menceritakan kelak kebaikan kita jika kita baik, begitupun sebaliknya”

Seperti itulah  yang dikatakan Awaluddin, Sub Kepala Bagian Minat dan Penalaran Kemahasiswaan ketika ditemui di ruangannya. Setiap harinya, ia berusaha membangun persahabatan dengan mahasiswa, baik mahasiswa baru maupun mahasiswa lama. Tak heran jika sosok yang akrab disapa pak Oci ini namanya tersohor di kalangan mahasiswa akademisi.

Sikap ramah yang melekat pada dirinya bisa dijumpai ketika bertandang ke meja kerjanya. Ia akan mengajak mahasiswa berbincang seputar kuliah bahkan masalah pribadi. Ketika ditemui, ia biasanya membuka perbincangan dengan memulai pertanyaan “Iye, kenapa ki nak? Ada yang bisa saya bantu?.”

Tak hanya di meja kerjanya, laki-laki kelahiran Bulukumba 8 Juni 1968 juga seringkali mengundang mahasiswa berbincang-bincang di rumahnya. Dari sekian banyak mahasiswa teman ngobrolnya, ia paling sering menemui mahasiswa yang bermasalah dengan kuliah maupun keluarganya. Kebanyakan dari mereka mengeluh karena kesulitan membayar SPP atau bahkan tak punya tempat tinggal di Makassar. “Saya biasa bilang, bagaimana pun tertutupnya mahasiswa kalau kita panggil baik-baik, ia akan ungkapkan masalahnya juga,” katanya.

Oci juga terkadang membantu mahasiswa yang kurang mampu dengan membayarkan UKT (Uang Kuliah Tunggal) mahasiswa. Bagi mahasiswa yang tak memiliki tempat tinggal, biasanya diarahkan ke masjid kampus untuk tinggal sementara waktu, kebetulan dia adalah salah satu pembina Unit Kegiatan Mahasiswa Pencinta Musala (UKM MPM) Unhas. “Saya yang jadi jaminan untuk ia tinggal di situ,” ujarnya.

Beberapa mahasiswa yang dibantunya biasa ingin mengembalikan pembayaran UKT darinya, namun ia selalu menolak. “Jangan nak, itu urusan saya dengan Allah, simpan saja untuk kebutuhan yang lain,” katanya saat diwawancarai.

Sejak menjadi honorer di Unhas pada tahun 1995, Oci sudah sering menjalin persahabatan dengan mahasiswa. Awal mula di Unhas, ia ditempatkan di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), staf Wakil Dekan III. Ia baru terangkat pada tahun 2007. Di FKM, ia seringkali menjadi tempat curhat mahasiswa. Tak jarang ia membantu menyelesaikan masalah mahasiswa, seperti mengungkapkan langsung kepada dosen kendala mahasiswa dalam mengerjakan tugas yang diberikan. “Dulu waktu saya di FKM, hampir tidak ada mahasiswa yang selesai di atas empat tahun, itu karena ketika saya lihat mahasiswa bersedih, saya langsung panggil dan tanyakan apa masalahnya,” tuturnya.

Sejak terangkat menjadi pegawai tetap, jabatan Oci dipindahkan ke bagian keuangan rektorat pada tahun 2008. Enam tahun bekerja di bagian keuangan, ia lalu diangkat menjadi Bendahara Kemahasiswaan pada tahun 2013. Setahun menjabat sebagai bendahara, ia dipindahkan lagi ke bagian Sub Hubungan Kerjasama dalam Negeri Biro Akademik, setahun setelah itu ia menduduki jabatannya sekarang menjadi Sub Kepala Bagian Minat dan Penalaran Kemahasiswaan.

Dari berbagai jabatan yang pernah didudukinya, ia lebih senang dengan posisinya yang sekarang ini. Ia bisa lebih dekat kembali dengan mahasiswa. Katanya, ia juga sering menjadi sumber informasi bagi mahasiswa baru yang mau kuliah di Unhas.

Tak jarang, suami dari Diana ini menerima telpon dari orang tua mahasiswa maupun calon mahasiswa baru dari berbagai daerah. “Bisa dibilang, hampir 50 persen saya akrab dengan mahasiswa Unhas dan orang tuanya,” ujarnya.

Selain bekerja sebagai pegawai di Unhas, ayah dari Nurul Haq Adhan ini tak pernah melewatkan waktu shalat. Ia bahkan menjadi imam masjid lantai dasar rektorat. Ia berharap bisa mencapai keinginan besarnya memperbaiki bacaan al-qur’an. “Saya berusaha banyak menghapal, karena kita akan dikritik oleh jamaah ketika kita salah,” ujarnya.

Kesenangannya membangun persahabatan dengan mahasiswa membuat dirinya selalu merasa keberadaannya di Unhas itu karena mahasiswa. “Penentu universitas adalah mahasiswa, bukan pegawai juga dosen,” tambahnya. Saking sayangnya pada mahasiswa,

jika disuruh memilih, ia lebih memilih dijauhi teman kerjanya dibanding harus dijauhi mahasiswa. “Mahasiswa itu datang dan pergi, saya tidak mau mereka tamat, lantas saya meninggalkan noda di hatinya,” katanya sembari mengakhiri wawancara.

 

Penulis : Ayu Lestari

 

 

 

 

 

 

BACA JUGA