Aku belajar merelakan.
Mengiring hatiku perlahan mengikhlaskan bahwa kita telah u s a i
Menerima bahwa tak ada lagi alasan untuk kembali bersama
Akhirnya aku sadar
Mendengar namamu dan mengetahui kau telah bahagia bersama dia
Aku tidak lagi menangis
Semoga kau temukan dirimu yang sebenarnya.
…
Aku merayakan nyeri dihati yang entah untuk apa
Karena sejatinya kita telah lama usai.
Aku menghadiri undanganmu. Hotel berbintang lima, dekorasi menawan disertai gemerlap lampu warna-warni. Aku mengerti sesukses apa engkau saat ini, tak membuatku heran karena kau memang laki-laki terhebat yang pernah kukenal.
Aku naik ke pelaminan menyampaikan selamat, sembari berjabat tangan dengan dirimu dan pasanganmu, kau hanya tersenyum tipis. “Harusnya aku yang berdiri di sampingmu,” ucapku dalam hati, walau kiranya telah berdamai dengan keadaan ini masih ada keinginan tersisah.
Aku menikmati sajian makanan, sambil melihat sekeliling gedung. Sampai saat matamu dan mataku bertemu. “Oh Tuhan, dia telah menjadi milik orang lain,” kataku pada diri sendiri.
Sampai saat aku mencari Yura untuk pamit dan bertemu Om Rendi.
“Zia pantas mendapat yang lebih baik, Om tunggu undangan Zia.”
Aku hanya tersenyum tanpa mengatakan sepatah kata pun, lalu beranjak pergi.
Yura mengantarku, “ada banyak hal tak terduga dalam hidup kak.”
“Kamu benar,” jawabku.
“Kak Zia tidak apa-apakan?” tanya adikmu.
“Tidak apa-apa kok,” ucapku lugas.
Sampai saat aku hendak memasuki mobil, Yura tersenyum dengan prihatin “terima kasih kak sudah hadir.”
Karena kau, aku berdamai dengan segala kehilangan. Sebelumnya, kau yang membantuku berdiri kembali setelah jatuh dan terpincang kehilangan kedua orang tua, dirimu juga mengajarkanku terbang tinggi, berangan terlalu dalam.
Hingga pada akhirnya, kau juga yang membuatku jatuh. Hanya keteguhan hati yang tersisah. Berusaha kuat meski jatuh berkali-kali, rapuh ditutupi dengan kata ‘tidak apa-apa’, meski sebenarnya tidak baik saja.
Hingga di hari bahagiamu ini, enam tahun tidak bersama kupikir sedih ini telah usai, nyatanya enggan, kau masih membayang. Kupikir cinta ini telah hilang, ternyata hanya bersembunyi.
…
Agustus 2020
Di jam makan siang, aku bergegas ke cafe depan kantorku. Secangkir cappucino, pulpen dan buku untuk menghabiskan waktu istirahat. Saat mataku fokus kepada pena, sesosok bayangan bergerak ke arahku, kukira pelayan yang biasanya menanyakan “Mau dessert apa?” Kutunggu sosok itu mendekat, lalu dengan spontan aku menolak.
“Tidak mas”
“Ini Nikol”
Aku langsung melihat ke atas, ternyata memang dirinya.
Ia langsung duduk didepan ku, tanpa kusuruh. Kau mulai berbicara dengan basa-basi, layaknya manusia yang telah lama tidak bertemu. Sampai saat dirimu mulai membahas mengenai kita.
“Sudah tunangan?”
Matanya mengarah kepada jari manisku yang dibaluti cincin.
“Inikan cincin lama,” jawabku. Aku pakai cincin ini mulai dari SMP, saat pacaran dengannya aku juga pakai, yah dia memang telah melupakanku.
“Dia bagaimana?” aku sebenarnya bingung mendengarnya.
“Dia?” tanyaku dengan bingung.
“Hahaha yang memboncengmu setiap saat dulu.”
Ini membuatku semakin bingung, dia yang mana, Pak Yusuf kah? Mas Gibran kah? Atau Reno? Akhir-akhir ini aku berlangganan ojek dengan Pak Yusuf, tapi katanya yang memboncengku dulu.
Mas Gibran mungkin, saat akhir-akhir kuliah Reno tidak bisa lagi memboncengku karena ia berkuliah di luar kota, jadinya aku berlangganan dengan Mas Gibran, tukang ojek yang aku bayar setiap bulan.
Atau yang ia maksud adalah Reno, sepupuku. 2017 lalu, Reno memang selalu mengantarku. Nikol mulai sibuk saat itu, apalagi saat hubunganku dengannya sudah usai. Dia menganggur satu tahun karena tidak lulus di PTN yang dia inginkan. Apa dia yang Mas Gibran maksud?
“Dulunya kapan?” tanyaku kepada Nikol.
“2017”
“Bukan kamu pastinya,” entah kenapa aku menjawab seperti ini.
“Iya siapa?”
“Reno”
“Dimana dia?” tanyanya dengan muka serius.
“Kuliah”
“Belum lulus?”
“Sudah semester lima sepertinya?”
“Masih sama?”
Aku tidak menjawab, hanya mengerutkan alis.
“Masih pacaran?” tanyanya lebih jelas.
“Dia sepupuku”
Dia diam tak mengeluarkan pertanyaan lagi. Mungkin sudah tak ada lagi yang ingin dia tanyakan. Jam sudah menunjukan pukul 12.30, setengah jam lagi sampai istirahat selesai.
“Duluan yah, sudah mau habis waktunya,” kataku sambil membereskan buku dan pulpen.
Aku mulai beranjak pergi.
“Tunggu, ada lagi. Jadi Reno itu sepupu kamu?” tanyanya.
Aku kembali duduk.
“Iya”
“Kata teman aku pacar kamu,” ucapnya dengan senyum miris.
“Dia salah berarti.”
Ia menghembuskan nafas. Tidak ada kata lagi yang keluar dari mulutnya.
“Aku minta putus karena itu,” ungkapnya dengan raut kecewa sambil meremas kepala.
Hati ini sesak, “hanya salah paham.”
Dia menghela nafas kembali sembari menundukan kepala. Aku pergi meninggalkan cafe dengan segala rasa yang berkecamuk, marah, kecewa, dan sedih.
Aku sakit mendengarnya, kita usai hanya karena kesalapaham. Dulu aku selalu berfikir kita adalah takdir. Aku memberikan hati dengan sepenuhnya, namun yang kudapat hanyalah goresan luka.
Terima kasih karena kau sudah membuatku merasakan dicintai setelah sekian lama kehilangan cinta dari Ibu dan Ayah. Rasanya indah sekali pernah singgah di rumahmu.
Mungkin itulah yang membuatku hancur, kau bukan lagi rumah.
Dalam proses merelakanmu, aku belajar berdamai dengan kehilangan.
…
Untuk Nikola Tesla,
kau menyembuhkan kehilanganku dan kau pergi
Aku belajar kehilangan
Benar mungkin kataku dulu
Semesta mengirimmu sebagai guruku
Terima kasih.
Penulis: Nur Alya Azzahra
Agribisnis 2019, Redaktur PK identitas Unhas.