30 September kembali diperingati sebagai hari pemberontakan Gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Tahun 1965 menjadi masa kelam dalam sejarah Republik Indonesia setelah diraihnya kemerdekaan dari kolonialisme barat.
Kala itu, sekelompok pasukan Tjakrabirawa melakukan pembantaian terhadap enam jenderal dan satu perwira TNI Angkatan Darat. Peristiwa itu kemudian dikenal dengan Gerakan 30 September atau G30S/PKI.
Salah satu yang gugur dalam peristiwa nahas itu adalah Ahmad Yani. Ia merupakan seorang jenderal yang memegang posisi panglima atau Kepala Satuan Angkatan Darat (KSAD). Jabatannya itu ia peroleh sejak 23 Juni 1962 hingga tutup usia pada malam terjadinya G30S.
Yani lahir pada 19 Juni 1922 di Desa Jenar, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Yani kecil dikenal sangat mengagumi sosok Pangeran Diponegoro. Ia mendengar kisahnya dari cerita yang dilantunan para orang tua di Desa Jenar. Yani anak pertama dari tiga bersaudara, pasangan Sardjo Bin Suhardjo dan Murtini. Sejak kecil, ia hidup dalam kondisi berkecukupan. Ayahnya hanya seorang sopir pejabat pemerintah Belanda di Purworejo bernama Jans Hulstjin.
Pada 1928, Yani mengenyam pendidikan dasar di Hollands Inlandsche School (HIS) atau sekolah dasar anak pribumi yang menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya. Ia berhasil masuk ke HIS berkat kecerdasan yang dimilikinya, beserta dorongan dari majikan sang ayah.
Setelah lulus dari HIS pada 1935, Yani kemudian melanjutkan pendidikannya di Middlebare Uitgebreit Onderwijs (Mulo) atau Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Bogor. Kemudian memutuskan merantau ke Jakarta pada 1938 untuk melanjutkan pendidikan di Al-Gemene Middlebare School (AMS) jurusan ilmu pasti.
Pada 1940, Perang Dunia II mulai berkecamuk di Eropa. Menyadari akan bahaya serbuan pihak Jepang, pemerintah Hindia Belanda memberlakukan wajib militer. Tugas itu mendapat sambutan baik dari anak-anak muda Belanda maupun pribumi. Yani yang saat itu masih menempu tahun kedua pendidikannya turut ikut dalam wajib militer itu.
Yani dimasukkan ke dalam pendidikan milisi Corps Opleiding Reserve Officieren (CORO). Yang kemudian harus berangkat ke Magelang untuk menempuh pendidikannya di Dinas Milisi Topografi selama 6 bulan. Pada 1941, ia diminta mengikuti pendidikan basis kemiliteran selama 3 bulan di Bogor. Setelah serangkaian pendidikannya itu, ia kemudian ditugaskan di Bandung dengan pangkat Sersan.
Proklamasi kemerdekaan menjadi era baru bagi karir militer Yani. Ia tergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) atau kini bernama Tentara Nasional Indonesia (TNI). Saat itu, Yani bersama anggotanya di Pembela Tanah Air (PETA) atau pasukan sukarela bentukan Jepang membuat Batalion III BKR atau dikenal dengan Resimen XIX. Awal perjuangannya bersama pasukannya itu berhasil menyita senjata tentara Jepang di Magelang dan Yogyakarta.
Ketika Indonesia mendapat pengakuan kedaulatan dari Belanda pada 1952, Ahmad Yani diperintahkan menumpas pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Jawa Tengah. Ia membentuk satuan khusus yang dikenal dengan Banteng Riders dan berhasil menuntaskan aksi pemberontakan itu.
Kemudian pada 1955, Yani di sekolahkan di Command and General Staff College di Fort Leaven Worth, Kansas, USA selama 9 bulan. Setahun setelahnya, ia mengikuti pendidikan selama dua bulan pada Special Warfare Course di Inggris. Setelah pendidikannya, ia dipindahkan ke Markas Besar AD di Jakarta. Ia kemudian ditugaskan untuk meredam pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Padang, Sumatera Barat, pada 1958. Operasi ini sukses besar, dan membuatnya mendapat promosi jabatan sebagai Wakil Kepala AD II.
Pada 23 Juni 1962, Ahmad Yani diangkat menjadi KSAD menggantikan A H Nasution. Pengangkatannya sebagai KSAD saat itu ketika ia masih tergolong cukup muda, yakni berusia 40 tahun.
Kedekatannya dengan Soekarno membuatnya mendapatkan jabatan sebagai KSAD. Meski masih tergolong muda, ia kerap kali mampu membuat bangga presiden RI pertama itu. Salah satunya, ketika Yani ditunjuk sebagai Kepala Staf Gabungan Komando Operasi Tertinggi (KOTI) dalam urusan pembebasan Irian Barat.
Kedekatannya dengan Soekarno sangat tergambar jelas. Ketika Yani melakukan renovasi rumah di Jalan Lembang Menteng, Soekarno menyempatkan hadir dalam acara syukuran di sela-sela kesibukannya sebagai kepala negara.
Setelah menjabat sebagai KSAD, keduanya semakin akrab, bahkan banyak kalangan menganggap bahwa Ahmad Yani merupakan anak emas sang proklamator. Ada pula kabar yang beredar, Yani telah dipersiapkan Soekarno menjadi presiden penerusnya. Kabar itu dibenarkan oleh beberapa pihak, terutama kolega Yani yakni Jenderal Sarwo Edhie Wibowo.
Sayangnya, hal itu tidak sempat tercapai. Aksi pembantaian G30S, menjadi akhir hayat dari sang Jenderal Ahmad Yani. Jenazahnya beserta lima jenderal lainnya dan seorang perwira ditemukan di sebuah sumur tua atau disebut Lubang Buaya pada 4 Oktober 1965.
Atas jasa-jasanya, Jenderal Ahmad Yani beserta enam orang lainnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta dan mendapat kenaikan pangkat satu tingkat secara anumerta.
Jenderal Ahmad Yani, sosok perwira yang cerdas, gagah, dan bertanggung jawab telah gugur sebagai kusuma bangsa. Ia digelari sebagai pahlawan revolusi atas jasa dan pengabdiannya terhadap negara dan bangsa.
Zidan Patrio