Follow

Derai Ombak yang Berliku

Editor: Ayu Lestari | Jumat, 14 September 2018 - 09:30 Wita | 137 Views
ilustrasi : Wandi Janwar

Niat untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi begitu tertanam amat dalam di hati Andi. Beberapa persiapan untuk menaklukkan universitas favoritnya ia lakukan. Berjalan 5 kilometer menuju rumah Nirwan, teman SMA-nya untuk belajar soal-soal masuk perguruan tinggi favorit. Aktivitas ini telah ia lakukan 3 bulan terakhir ini.

Tahun ini menjadi tahun kesempatan terakhir Andi untuk masuk di universitas negeri, niat baik  Andi selesai SMA dua tahun yang lalu terpaksa dia kubur dalam-dalam, sang bapak tak mengizinkan. Sebelumnya, niat baik ini belum disampaikan kepada bapaknya, dia hanya memberitahukan kepada ibunya.

Dua pekan ke depan menjadi hal yang sangat dinantikan oleh Andi. Bagaimana tidak, di hari pengumuman itu akan menjadi semangat sekaligus pengubur semangatnya. Hari itu akan ditentukan nasibnya. Apakah akan menjadi pelaut, membantu sang bapak atau menjadi mahasiswa.

Kabar bahagia itu lalu berpihak kepada Andi. Pada pengumuman kelulusan, dia diterima di salah satu universitas negeri, meskipun bukan menjadi universitas yang difavoritkan. Kendati, ia tetap bahagia. Ia telah lolos, dan sebentar lagi akan menyandang gelar mahasiswa.

Hal terberat yang akan dia dihadapi ke depannya adalah menyampaikan niat itu kepada sang bapak. Bapak tidak setuju ketika Andi harus kuliah. Alasannya, kuliah hanya menghabiskan uang saja, lebih baik menjadi pelaut, bisa mendapatkan uang.

Angin laut yang bergerak cepat mengajak daun kelapa menari-nari ditambah dengan iringan ombak yang berlomba-lomba menuju daratan. Suasana yang menemani Andi menyampaikan niat baik itu kepada bapaknya.

“Bapak, saya mau kuliah.”

“Kuliah? kita mau ambil uang di mana nak? keuntungan yang bapak dapatkan selama berlayar 4 bulan ini hanya cukup kita makan 3 bulan ke depan saja”

Hal tersebut tidak menyurutkan semangat Andi untuk terus berusaha agar mendapat restu dari sang bapak.

Minggu depan, bapak Andi akan berlayar selama dua tahun. Hal ini yang akan dicoba untuk dimanfaatkan Andi. Dia dengan diam-diam akan ke kota untuk melakukan registrasi ulang agar tidak ketahuan di hari keberangkatan sang bapak, Andi menemani sang bapak. Setelah beberapa jam berlayar, Andi lalu bergegas, meminta izin kepada sang ibu untuk pamit menuju kota. Di kota, Andi akan bekerja dan berjuang mencari beasiswa, meski harus kerja apapun itu. Andi akan kembali ke kampung halaman, saat Bapak pulang dari melaut dalam waktu yang cukup lama. Dua tahun.

Selama empat tahun, Andi telah menyelesaikan studinya dan saat ini bergelar sarjana, gelar yang diraihnya tanpa sepengetahuan sang Bapak.

Tiga hari ke depan, sang bapak akan kembali. Dua tahun yang direncanakan pulang tertunda karena pada waktu itu ada masalah sehingga menyebabkan bapak Andi harus menambah waktu, tak pulang.

Rasa bahagia yang dirasakan Andi dan sang ibu menyambut sang bapak disambut dengan isakan haru, berderai air mata, rindu bahagia.

Ada hal yang janggal yang didapati oleh sang bapak. Andi lalu menceritakan cerita panjangnya dalam meraih kesuksesan ini. Apa yang saat ini diraih Andi merupakan kerja keras sang Bapak. Bapak yang berjuang di tengah luasnya laut, satu tujuannya, untuk keluarga. Saat ini Andi telah di puncak kesuksesan. Saat ini dia menjabat sebagai kepala kantor ternama dalam bidang kelautan. Dan inilah yang membuat rumah yang dulunya hanya gubuk, sekarang menjadi sebuah istana. Pemandangan yang pertama kali dilihat oleh sang Bapak, dan tak percaya akan kesuksesan yang didapatkan oleh anaknya itu.

Bapak lalu berpesan kepada Andi. Tetaplah menjadi seperti laut, laut yang memberikan banyak manfaat kepada orang banyak. Laut yang menyimpan surga di dasarnya. Surga untuk orang-orang yang mencintai kekayaan laut.

Penulis : Hae Azzam,

Anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Ranting Unhas

Merupakan mahasiswa Program Pasca Sarjana Unhas 2016.

 

BACA JUGA